Minggu, 18 Oktober 2009

PENDIDIKAN YANG MENGHINA PENDIDIKAN



JUMLAH sarjana yang menganggur di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada Februari 2005, jumlah sarjana yang menganggur masih 385.400 orang. Empat tahun kemudian, yakni pada Februari 2009, jumlahnya sudah melonjak dua kali lipat menjadi 626.600 orang.

Angka pengangguran terdidik bertambah besar lagi jika digabungkan dengan pengangguran lulusan diploma yang mencapai 486.400 orang. Para penganggur terdidik itu merupakan bagian dari pengangguran terbuka secara nasional yang pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta atau setara dengan 8,14% dari total angkatan kerja.

Pertambahan jumlah pengangguran tingkat sarjana mesti diwaspadai. Sebab setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Semakin besarnya angka pengangguran terdidik tentu saja berdampak buruk, yakni berpotensi menimbulkan masalah sosial.

Mereka, para penganggur terdidik, bisa saja menjadi aktor intelektual kejahatan yang ada di tengah masyarakat. Selain itu, pengangguran terdidik adalah sebuah pemborosan. Bukankah negara sudah mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan? Alokasi anggaran yang begitu besar hanya untuk memproduksi penganggur sehingga jelas sebuah pemborosan.

Dampak buruk lainnya, ini paling serius, adalah hilangnya penghargaan dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Bukan rahasia lagi, untuk masuk ke perguruan tinggi dibutuhkan biaya selangit.

Semakin jelas sudah bahwa perguruan tinggi masih menghasilkan manusia pencari kerja. Celakanya, perencanaan pembangunan pendidikan tinggi tidak selaras dengan perkembangan lapangan kerja sehingga lulusannya tidak bisa terserap di lapangan kerja.

Perguruan tinggi harus kreatif sebab kesempatan kerja sesungguhnya masih terbuka lebar. Sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan adalah contoh bidang-bidang yang masih membutuhkan tenaga ahli.

Perguruan tinggi mesti mewujudkan pendidikan yang berbasis pada pasar kerja. Selain itu, untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, perguruan tinggi sudah saatnya menambah keterampilan mahasiswa di luar bidang akademik yang mereka kuasai. Terutama keterampilan yang berkaitan dengan kewirausahaan.

Dengan demikian, perguruan tinggi bisa menghasilkan manusia pencipta lapangan kerja.

Pemerintah tentu saja tidak bisa mencuci tangan atas membengkaknya pengangguran terdidik. Pemerintah harus menciptakan lapangan kerja yang bermutu sehingga menarik minat kaum penganggur intelektual. Jangan pula para sarjana itu disuruh menjadi buruh bangunan.

Pernyataan ini, tentu, tidak dimaksudkan untuk menganggap buruh bangunan atau tukang becak sebagai pekerjaan tidak bermakna. Hanya, bila ingin menjadi tukang becak atau buruh bangunan, mengapa harus menghabiskan waktu dan dana begitu besar di perguruan tinggi?
Pemerintah, sejak dulu, tidak pernah memiliki konsep yang tegas dan terencana tentang keterkaitan antara pendidikan dan lapangan kerja. Pendidikan dilaksanakan sebagai amanat konstitusi semata.

Tidak ada mata rantai yang mengikat antara tamatan perguruan tinggi dan lapangan kerja. Kita pernah gencar dengan program link and match, sebuah konsep yang sangat betul, tetapi mati dari aplikasi.

Meningkatnya angka pengangguran tamatan perguruan tinggi mencerminkan dengan sangat jelas tentang ketersesatan program penanggulangan kemiskinan kita. Memerangi kemiskinan haruslah ditempuh melalui perluasan lapangan kerja karena pertumbuhan investasi.

Kemiskinan tidak bisa dihapus melalui bantuan langsung tunai dan sedekah negara. Pada akhirnya lonjakan pengangguran orang-orang terdidik menghina pendidikan itu sendiri.

Selasa, 13 Oktober 2009

Senjakala Kekuasaan, Antara Soeharto dan Soekarno




Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

“Pak, Pak, ini Ega…”

Senyap.

Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.



Jelang Wafat

Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

“Hatta.., kau di sini..?”

Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”

Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.

“Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.

Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

“No…”

Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.

Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal

bagian kedua

Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.

Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:

Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.

Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).

Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.

Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.

Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.

Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.

Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.

Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk
Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?

Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?

Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.

Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.

Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.

Dibunuh Perlahan
Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.

Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.

Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita

bagian ketiga

Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.

Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.

Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain—mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda—malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun.

Hanya Korban Yang Berhak Memintakan Maaf
Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktatur, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!

Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. “Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!” tukasnya.

Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, “Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia…” Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.

Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, ya itu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.

Gelar Pahlawan Orde Baru
Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti dinilai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.

Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar ‘Pahlawan Orde baru’, karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya dilingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya.

Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.

Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien.

SAKSI BISU
Ir. SOEKARNO

Selasa, 18 Agustus 2009

AN INQUIRY ON SISINGAMANGARAJA

Raja Si Singamangaraja I
Raja Manghuntal

Raja Si Singamangaraja I adalah anak dari Raja Bonanionan Sinambela, yaitu anak dari Raja Bonanionan Sinambela, yaitu putra ke tiga dan bungsu dari Raja Sinambela. Raja Bonanionan menikah dengan boru Pasaribu. Walaupun mereka sudah lama menikah, tetapi mereka belum mempunyai turunan. Karena itu boru Pasaribu pergi ke “Tombak Sulu-sulu” untuk marpangir (keramas dengan jeruk purut). Setiap kali selesai marpangir, boru Pasaribu berdoa kepada “Ompunta” yang di atas, mohon belas kasihan agar dikaruniai keturunan. Pada suatu hari , datanglah cahaya terbang ke Tombak Sulu-sulu dan hinggap di tempat ketinggian yang dihormati di tempat itu. Yang datang itu memperkenalkan diri, rupanya seperti kilat bercahaya-cahaya dan yang datang itu adalah Ompunta Batara Guru Doli. Ompunta Tuan Batara Guru Doli berkata bahwa boru Pasaribu akan melahirkan anak. Katanya: “Percayalah bahwa engkau akan melahirkan seorang anak dan beri namanya Singamangaraja”. Kalau anakmu itu sudah dewasa, suruh dia mengambil tanda-tanda kerajaan dari Raja Uti, berupa:

1. Piso gaja Dompak
2. Pungga Haomasan
3. Lage Haomasan
4. Hujur Siringis
5. Podang Halasan
6. Tabu-tabu Sitarapullang

Tidak lama kemudian boru Pasaribupun mulai mengandung. Setelah mengandung selama 19 bulan boru Pasaribu melahirkan seorang putera. Sang Putra ini lahir dengan gigi yang telah tumbuh dan lidah yang berbulu.
Semasa remajanya Singamangaraja banyak berbuat atau bertingkah yang ganjil terutama pada orang yang tidak pemaaf, yang ingkar janji, melupakan kawan sekampung yang lemah, membebaskan mereka yang tarbeang kalah berjudi.
Si Singamangarajapun pernah menunjukkan keheranan orang-orang yang berpesta dimana gondangnya tidak berbunyi dan tanaman padi dan jagung akarnya berbalik keatas mengikuti Si Singamangaraja saat jungkir balik dihariara parjuragatan. Hal ini terjadi karena mereka itu melupakannya.

Setelah Singamangaraja meningkat dewasa maka ibunya boru Pasaribu menyampaikan pesan dari Ompunta Batara Guru Doli bahwa Singamangaraja harus mengambil tanda-tanda kerajaan dari Raja Uti. Dia tidak tahu di mana kampung keramat Raja Uti demikian juga ibunya. Dia berangkat dengan berbekal doa yang menunjukkan dan menuntun langkahnya ke tempat keramat tersebut.

Dalam perjalanan banyak hambatan demikian juga setiba di keramat kampung Raja Uti yang ternyata ada di daerah Barus. Di sana juga dia dicoba tetapi semua bisa diatasi dengan baik. Sisingamangaraja bertemu dengan Raja Uti dan mereka makan bersama dan katanya: “Sudah benar ini adalah Raja dari orang Batak”. Setelah selesai makan merekapun menanyakan silsilah (martarombo) dan Si Singamangarajapun menyampaikan maksudnya dan disamping itu Sisingamangaraja meminta beberapa ekor gajah. Atas maksud Si Singamangaraja itu, Raja uti mengatakan akan memberikannya seperti pesan yang disampaikan Ompunta itu dengan syarat Si Singamangaraja harus dapat menyerahkan daun lalang selebar daun pisang, burung puyuh berekor dan tali yang terbuat dari pasir. Syarat-syarat yang diminta Raja Uti untuk mendapat tanda-tanda harajaon itu dapat dipenuhi semua oleh Singamangaraja. Sedang mengenai permintaan akan gajah itu, Raja Uti memberikannya asal Si Singamangaraja bisa menangkap sendiri. Si Singamangarajapun memanggil gajah itu maka heranlah Raja Uti melihatnya. Dan setelah itu dibawanya tanda-tanda harajaon itu pulang ke Bakara termasuk gajah itu.
Dengan tanda-tanda harajaon itu, jadilah dia menjadi Raja Singamangaraja, singa mangalompoi, Singa naso halompoan.
Raja Si Singamangaraja berikutnya

Raja Sisingamangaraja I sampai Raja Si Singamangaraja IX tidak diketahui kapan wafatnya dan dimana makamnya. Raja-raja ini setelah mempunyai keturunan dan merasa sudah ada penggantinya pergi merantau dan Piso Gaja Dompak tidak dibawanya. Mereka dipastikan telah wafat adalah melalui tanda-tanda alam yaitu ada cabang dari Hariara Namarmutiha yang patah. Kalau ada cabang Hariara ini yang patah berarti ada anggota keluarga yang meninggal dan kalau cabang utama yang patah berarti Raja Si Singamangaraja telah tiada. Hariara Namarmutiha ini dikenal juga sebagai Hariara Tanda dan sampai sekarang masih tumbuh di Bakara.

Biasanya keadaan ini diikuti dengan cuaca musim kemarau, sehingga masyarakat mengharapkan turunnya hujan melalui tonggo-tonggo Raja Sisingamangaraja. Si Onom Ompu (Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Marbun dan Simamora) dari Bakara mempersiapkan upacara margondang lalu meminta kesediaan putera Raja Si Singamangaraja untuk mereka gondangi.
Dengan memakai pakaian ulos batak Jogia Sopipot dan mengangkat pinggan pasu berisi beras sakti beralaskan ulos Sande Huliman sebagai syarat-syarat martonggo, putera raja inipun dipersilahkan memulai acara. Iapun meminta gondang dan menyampaikan tonggo-tonggo (berdoa) kepada Ompunta yang di atas untuk meminta turunnya hujan, kemudian manortorlah putera raja ini. Pada saat manortor itu langitpun mendung dan akhirnya turun hujan lebat dan masyarakat Si Onom Ompupun menyambutnya dengan kata HORAS HORAS HORAS. Kemudian piso Gaja Dompak pun diserahkan kepadanya dan dicabut/dihunusnya dengan sempurna dari sarangnya serta diangkatnya ke atas sambil manortor. Siapa di antara putera raja itu yang bisa melakukan hal-hal di atas dialah yang menjadi Raja Si Singamangaraja yang berikutnya, jadi tidak harus putera tertua.
Secara berturut-turut yang menjadi Raja Si Singamangaraja berikutnya dan perkiraan tahun pemerintahannya adalah Sebagai berikut:
 Singamangaraja II, Ompu Raja Tinaruan
 Singamangaraja III, Raja Itubungna.
 Singamangaraja IV, Tuan Sorimangaraja.
 Singamangaraja V, Raja Pallongos.
 Singamangaraja VI, Raja Pangolbuk,
 Singamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut,
 Singamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal
 Singamangaraja IX, Ompu Sohalompoan,
 Singamangaraja X, Ompu Tuan Na Bolon,
 Singamangaraja XI, Ompu Sohahuaon,
 Singamangaraja XII, Patuan Bosar, gelar Ompu Pulo Batu,

Raja Si Singamangaraja X
Ompu Tuan Nabolon

Raja Si Singamangaraja X Ompu Tuan Nabolon mangkat karena dipenggal oleh Si Pokki Nangolngolan atau Tuanku Rao, yang dengan akal liciknya mengundang Raja Si Singamangaraja X untuk datang ke Butar. Pada pertemuan di Butar itulah si Pokki memenggal leher Raja Sisingamangaraja X. Kepala Raja ini terbang menghilang, terbang ke pangkuan ibundanya boru Situmorang. Oleh ibunya, secara diam-diam dikuburkannya di dalam batu besar yang ada di Lumban Raja, karena sebelumnya ia sudah berfirasat akan kejadian yang akan menimpa anaknya.

Adapun badan Raja Si Singamangaraja X yang terkapar di bukit parhorboan, tertimbun tanah karena tiba-tiba bukit itu runtuh. Raja si Onom Ompu dengan pengikut-pengikut yang mendampingi Raja Si Singamangaraja X pun melawan dan sebagian teman si Pokki itu mangkat. Tetapi karena pasukan si Pokki yang tadinya bersembunyi datang membantu si Pokki dan si Pokki menjadi lebih kuat, melarikan dirilah mereka ke Gunung Imun. Si Pokki terus menyerang Bakara dan banyak yang ditewaskannya baik yang dewasa maupun anak kecil.

Menurut pengakuan Pokki Nangolngolan (Tuanku Rao), dia adalah anak dari saudara perempuan Raja Sisingamangaraja X yang pergi ke Bonjol. Pokki Nangolngolan mengatakan bahwa dia sudah rindu pada tulangnya dan dia akan memberinya makan (manulangi) dan akan memberikan piso-piso (uang) sebagai persembahan. Karena kata-kata manis dari si Pokki inilah maka Raja Sisingamangaraja X pergi ke butar. Walaupun pada awalnya Ia mengatakan kenapa si Pokki tidak mendatanginya ke Bakara.
Karena tidak mendapatkan jenazah Raja Si Singamangaraja X, Tuanku Rao melanjutkan penyerangan ke Bakara. Banyak penduduk yang dibunuh. Pasukannya membumihanguskan seluruh daerah yang dilaluinya dari Butar ke Bakara termasuk istana Lumban Pande di Bakara.

Isteri Raja Si Singamangaraja X yang pertama yaitu boru Situmorang dengan 2 orang anaknya yang masih kecil melarikan diri ke Lintong Harian Boho ke kampung orangtuanya Situmorang. Sedang isterinya yang kedua bermarga boru Nainggolan beserta anaknya Raja Mangalambung diculik si Pokki bersama anak-anak yang lain yang diduganya sebagai anak Raja Si Singamangaraja X. Mereka dibawa ke arah tenggara dalam perjalanan kembali ke Bonjol. Dalam perjalanannya di daerah Tapanuli Selatan sedang terjadi wabah penyakit menular (begu antuk) yang juga mengenai/menyerang pasukan Tuanku Rao sehingga kacau balau. Tawanannya tercecer di Tapanuli Selatan. Sebagian dari yang tercecer ini membuat perkampungan di daerah di Tapanuli Selatan ini.

Raja Si Singamangaraja XI
Ompu Sohahuaon

Belum lagi selesai penderitaan akibat serangan si Pokki terjadi pula musim kemarau yang berkepanjangan. Masyarakat Si Onom Ompu bersepakat menyampaikan hal ini kepada boru Situmorang dan memintanya kembali ke Bakara. Setelah boru Situmorang membawa kedua anaknya kembali, masyarakatpun meminta agar Ompu Sohahuaon mereka gondangi untuk turunnya hujan.
Acara margondangpun dipersiapkan dengan baik dan Ompu Sohahuaon yang masih kecil tampil dengan berpakaian ulos Batak. Boru Situmorang dan masyarakat si Onom Ompu kaget dan kagum, karena Ompu Sohahuaon yang masih kecil itu mampu meminta gondang dan mengucapkan tonggo-tonggo untuk turunya hujan. Merekapun mengelu-elukan dengan manortor. Haripun menjadi gelap karena mendung dan hujanpun turun dengan lebat. Ompu Sohahuaon terus manortor sampai berakhir gondang yang dipintanya. Kemudian diserahkan Piso Gaja Dompak kepadanya dan manortor kembali sambil menghunus Piso Gaja Dompak dengan sempurna dan disarungkan kembali. Ompu Sohahuaon dinobatkan menjadi Raja Si Singamangaraja XI dalam usia 10 tahun.

Pada masa pemerintahan Raja Si Singamangaraja XI disusun “Pustaha Harajaon (pustaka kerajaan)” archief Bakara yang ditulis dengan dawat/tinta cina diatas kertas Watermark ukuran folio buatan Itali dalam tulisan dan bahasa Batak. Pustaka ini dibuat atas bimbingan dari Ompu Sohahuaon sendiri. Pustaha harajaon ini terdiri atas 24 jilid, setiap jilidnya tebalnya sekitar 5 Cm yang isinya secara secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut:
* Jilid 1 s/d 3: Pemerintahan Tuan Sorimangaraja selama 90 turunan mulai dari Putri Tapi Donda Nauasan.
* Jilid 4 s/d 7: Pemerintahan kerajaan Singamangaraja SSM I s/d SSM IX.
* Jilid 8: Perihal Pedang Padri Tuanku Rao terhadap Tuan Nabolon SSM X
* Jilid 9: Perihal Pongkinangolngolan dan Datu Aman Tagor Simanullang.
* Jilid 11 s/d 12: Perihal Pendeta Pilgram, pembunuhan atas diri Pendeta Lyman dan Munson oleh Raja Panggalamei.
* Jilid 13-16: Periode pembangunan kembali ibu kota kerajaan Bakara dan daerah-daerah Toba tahun 1835-1845 atas pembumi hangusan perang bonjol.
* Jilid 17: Perihal Dr. Junghun, van der Tuuk yang datang menjumpai SSM XI dan perihal photonya.
* Jilid 18 s/d 24: Penobatan Ompu Sohahuaon menjadi SSM XI, pemerintahannya sampai tahun 1886 dan perihal penyakit menular yang dahsyat di tanah Batak.

Pada tahun 1884 Pustaha Harajaon ini ditemukan dari tumpukan rumah kerajaan yang dibakar oleh tentera Belanda. Dibawa ke Holland oleh Pendeta Pilgrams dan sekarang ada di Museum Perpustakaan Pemerintah Belanda di Leiden � Holland.
Pustaha Harajaon tidak diteruskan penulisannya oleh SSM XII sebab tidak ada kesempatan, karena semenjak awal pemerintahannya, Koloni Belanda telah melancarkan agresinya di tanah Batak dan sekitarnya, sehingga Ompu Pulobatu berperang selama 30 tahun sampai tewasnya dalam usia 59 tahun pada 17 juni 1907.

Raja Si Singamangaraja XI Ompu Sohahuaon menikah dengan boru Aritonang sebagai isteri pertama yang melahirkan Raja Parlopuk . Isteri kedua adalah boru Situmorang yang melahirkan Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu. Beda umur Raja Parlopuk dengan Patuan Bosar sangat jauh, ada sekitar 15 tahun.
Ketika Ompu Sohahuaon jatuh sakit, maka jalan pemerintahan dilaksanakan oleh Raja Parlopuk. Cukup lama Raja Parlopuk memegang tugas itu dan dilaksanakannya dengan baik. Tahun 1866 Ompu Sohahuaoan meninggal di Bakara dan dibangun makamnya oleh Raja Parlopuk dengan Si Onom Ompu di Lumban Raja. Makam inilah yang pertama ada di Bakara karena SSM I hingga SSM IX tidak diketahui meninggal di mana. Waktu Raja Si Singamangaraja XI meninggal, Patuan Bosar sedang merantau ke Aceh.

Makam ini dibongkar oleh Raja Si Singamangaraja XII karena Bakara diserang Belanda. Tulang belulang Raja Si Singamangaraja XI dibawanya ikut berjuang ke hutan, karena tidak ingin tengkorak orang-tuanya diambil oleh Belanda. Semasa perjuangan tulang-belulang ini di titipkan di huta Janji Dolok Sanggul lalu dipindahkan lagi ke Huta Paung. Setelah zaman kemerdekaan, kembali di pindahkan di rumah Soposurung.

Kira-kira 105 tahun kemudian, makam ini dibangun kembali oleh keluarga Raja Sisingamangaraja dan pada tahun 1975 tulang belulang Raja Sisingamangaraja XI dan istrerinya dimakamkan kembali ke makam semula di Bakara.
Raja Parlopuk terus melaksanakan pemerintahan Singamangaraja hingga tahun 1871, yaitu setelah dinobatkannya Patuan Bosar sebagai Raja Sisingamangaraja XII.

Raja Si Singamangaraja XII
Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu

Walaupun Raja Si Singamangaraja XI telah meninggal, Si Onom Ompu tidak merasa ada yang kurang dalam pemerintahan, karena Raja Parlopuk bekerja dengan cukup baik. Tetapi ketika musim kemarau datang dan membawa penderitaan, mulailah si Onom Ompu berfikir untuk adanya acara margondang. Raja Parlopukpun mereka persilahkan untuk mereka gondangi agar dia martonggo memohon turun hujan. Tetapi hujan tidak turun-turun juga.

Mulanya Ompu Pulo Batu tidak bersedia mereka gondangi karena merasa bahwa abangnya itu telah sebagai raja pengganti ayahnya. Akhirnya Ompu Pulo Batu bersedia karena melihat penderitaan yang diderita masyarakat Si Onom Ompu. Setelah melaksanakan upacara seperti yang biasa dilakukan, Ompu Pulobatu berhasil mendatangkan hujan. Ompu Pulo Batupun dinobatkan menjadi Raja Si Singamangaraja XII pada tahun 1871.

Ompu Pulo Batu lahir tahun 1848 dari ibunya boru Situmorang. Pada saat pemuda, Ompu Pulo Batu merantau ke Aceh, disana bergaul dengan pedagang dari Persia dan belajar banyak hal. Karena itu ketika perang melawan Belanda, Raja Si Singamangaraja XII dibantu oleh pejuang-pejuang dari Aceh, Dan dalam cap/stempelnya dipakai Bahasa Arab dan Bahasa Batak.
Pada tahun 1877 Raja Si Singamangaraja XII menyatakan perang kepada Belanda. Kemudian dia menjalankan perang terhadap Belanda selama 3 dasawarsa.

Sabtu, 15 Agustus 2009

DAFTAR GAJI PNS TAHUN 2009

Berikut daftar gaji pokok pegawai negeri sipil [PNS] tahun 2009. Gaji pokok PNS terendah Rp1.040.000 dan tertinggi Rp3.400.000. Daftar gaji ini belum termasuk tunjangan jabatan PNS. Dimulai dari gaji pokok pegawai negeri dengan golongan paling rendah.
Daftar gaji pokok PNS tahun 2009

Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.040.000

Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 1.091.700

Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 16 tahun sebesar Rp 1.262.700

Pegawai negeri sipil golongan II

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.320.300

Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 5 tahun sebesar Rp 1.462.300

Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp 1.650.800

Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp 1.487.600

Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp 1.561.600

Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp 1.720.700

Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp 1.550.600

Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp 1.627.600

Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp Rp 1.793.400

Gaji pokok PNS golongan IIIa dan IVa

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.655.800

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 1.738.100

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 1.869.300

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 1.954.300

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.051.400

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 10 tahun sebear Rp 2.206.200

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 2.880.800
Gaji pejabat eselon I, yaitu golongan IV d dan golongan IV e

Golongan IV d dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.212.900

Golongan IV d dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.322.900

Golongan IV d dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.498.200

Golongan IV d dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp3.262.000

Golongan IV e dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.306.500

Golongan IV e dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.421.200

Golongan IV e dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.603.900

Golongan IV e dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 3.400.000

Selasa, 11 Agustus 2009

Iran's President Ahmadinejad's speech at UN



The following is the full text of his speech before the Sixtieth Session of the United Nations General Assembly on 09/17/05

09/19/05 "ICH" -- --

"In the Name of the God of Mercy, Compassion, Peace, Freedom and Justice

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen, "Today we have gathered here to exchange views about the world, its future and our common responsibilities towards it. It is evident that the future of the world is intertwined with its current state and the prevailing trends, which exhibit signs of hope and despair.

"On the one hand certain hopes and opportunities exist, and this August Assembly is convened on such hopes. Today human thought reflects outstanding commonalities which provide appropriate grounds to build upon.

With the passing of the era of agnostic philosophies, today humanity is once again joined in celebrating monotheism and belief in the Creator as the originator of existence. This is the common thread which binds us all.

"Faith will prove to be the solution to many of today's problems. The Truth will shine the light of faith and ethics on the life of human beings and prevent them from aggression, coercion and injustice and will guide them towards care and compassion for fellow beings.

"Another hope is the common global appreciation of the sources of knowledge. Although reason, experience and science are among valuable sources of knowledge, the darkness of the Middle Ages deprived major portions of the Western world of appreciating. This reactionary tendency deprived many of access to various scientific findings and knowledge and led to the exclusion of other sources of knowledge namely God and knowledge based on revelation from the life of human beings in the West; Divine knowledge that was carried and disseminated by such prophets as Noah, Abraham, Moses, Jesus, and Mohammad (peace be upon them).

"Today, agnostic thinking is on the decline and presently humanity is equally enamored with religion knowledge and spirituality. This is an auspicious beginning. Divine prophets teach us about proper regard for the exalted state of human beings on earth.

"The human being is blessed with dignity, most importantly manifested in being the viceroy of the Almighty on earth. The Almighty placed humans on earth to develop it, institutionalize justice, overcome their egoistic tendencies and praise no lord but the Almighty.

"Faith and good deeds can bring deliverance and the good life even in this world. Attaining this depends on human will, that is the will of each and every one of us. We must heed the call of our common primordial nature and achieve the realization of this good life.

"On the other hand, the prevalence of military domination, increasing poverty, the growing gap between rich and poor countries, violence as a means to solve crises, spread of terrorism, specially state terrorism, existence and proliferation of weapons of mass destruction, the pervasive lack of honesty in interstate relations, and disregard for the equal rights of peoples and nations in international relations constitute some of the challenges and threats.

"Although these challenges are very real, we believe we are not predestined to experience them. Our common will not only can change this course but in fact can lead us to a life filled with hope and prosperity. Divine revelation teaches us that "The Almighty changes the fate of no people unless they themselves show a will for change" (Holy Quran, 13:11).

"How can we influence the future of the world? When and how will peace, tranquility and well-being for all come about? These are the fundamental questions before us.

"We believe that a sustainable order, nurturing and flourishing peace and tranquility, can only be realized on the two pillars of justice and spirituality. The more human society departs from justice and spirituality, the greater insecurity it will face, so much so that a relatively small crisis, such as a natural disaster, leads to various abnormalities and inhuman behavior.

"Unfortunately, the world is rife with discrimination and poverty. Discrimination produces hatred, war and terrorism. They all share the common root of lack of spirituality coupled with injustice. Justice is about equal rights, the correct distribution of resources in the territories of different states, the equality of all before the law and respect for international agreements.

"Justice recognizes the right of every one to tranquility, peace and a dignified life. Justice rejects intimidation and double standards. As the eminent daughter of the Prophet of Islam has said, "justice brings tranquility and harmony to our hearts."

"Today, the world is longing for the establishment of such justice. If humanity heeds the call of its primordial nature with firm resolve, justice will emerge. This is what the Almighty has promised and all people of good will from all religions are waiting for. If the prevailing discourse of global relations becomes one of justice and spirituality, then durable peace will be guaranteed.

"Conversely, if international relations are defined without justice and spirituality and void of moral considerations, then the mechanisms for promoting confidence and peace will remain insufficient and ineffective.

"If some, relying on their superior military and economic might, attempt to expand their rights and privileges, they will be performing a great disservice to the cause of peace and in fact will fuel the arms race and spread insecurity, fear and deception. If global trends continue to serve the interests of small influential groups, even the interests of the citizens of powerful countries will be jeopardized, as was seen in the recent crises and the even natural disaster such as the recent tragic hurricane.

"Today, my nation calls on other nations and governments to "move forward to a durable tranquility and peace based on justice and spirituality."

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
"The Islamic Republic of Iran is born out of a movement, based on the pure primordial nature of a people who rose up to regain their dignity esteem and human rights. The Islamic Revolution toppled a regime, which had been put in place through a coup, and supported by those who claim to be advocates of democracy and human rights, thwarted the aspirations of the nation for development and progress for 25 years through intimidation and torture of the populace and submission and subservience to outsiders.

"The Islamic Republic of Iran is the manifestation of true democracy in the region. The discourse of the Iranian nation is focused on respect for the rights of human beings and a quest for tranquillity, peace, justice and development for all through monotheism.

"For 8 years, Saddam's regime imposed a massive war of aggression and occupation on my people. It employed the most heinous weapons of mass destruction, including chemical weapons against Iranians and Iraqis alike.

Who, in fact, armed Saddam with these weapons? What was the reaction of those who now claim to fight against WMDs regarding the use of chemical weapons back then? The world is witness to the fact that the Islamic Republic of Iran, because of its humanitarian principles, even during the most testing of times and when it was sustaining the highest number of casualties, never allowed itself to use such weapons.

"Thousands of nuclear warheads that are stockpiled in various locations coupled with programs to further develop these inhuman weapons have created a new atmosphere of repression and the rule of the machines of war, threatening the international community and even the citizens of the countries that possess them.

"Ironically, those who have actually used nuclear weapons, continue to produce, stockpile and extensively test such weapons, have used depleted uranium bombs and bullets against tens and perhaps hundreds of thousands of Iraqis, Kuwaitis, and even their own soldiers and those of their allies, afflicting them with incurable diseases, blatantly violate their obligations under the NPT, have refrained from signing the CTBT and have armed the Zionist occupation regime with WMDs, are not only refusing to remedy their past deeds, but in clear breech of the NPT, are trying to prevent other countries from acquiring the technology to produce peaceful nuclear energy.

"All these problems emanate from the fact that justice and spirituality are missing in the way powerful governments conduct their affairs with other nations.

"After September 11, a particular radical group was accused of terrorist activities -- although it was never explained how such huge intelligence gathering and security organizations failed to prevent such an extensive and well planned operation.

"Why powers that, not so long ago, were supporting the activities of such groups in Afghanistan and thus portraying themselves as supporters of human rights and the Afghan people have over night turned into their most fierce critic?

"Are we to believe that their benefactors, i.e. the very same hegemonic powers have lost control? "If the answer is yes, would it not be better for those powers to adopt an honest and transparent approach to the international community, provide precise information about the main elements and their arms and financial support system, and accept responsibility for their inhuman actions against nations and countries, and thereby assist peoples and nations to correctly, wisely and sincerely fight the roots of terrorism.

"We must endeavor to achieve sustainable tranquility and peace based on justice and spirituality.

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
"Terrorism and WMDs are two major threats before the international community. The Islamic Republic of Iran, as one of the main victims of terrorism and chemical weapons, fully appreciates the difficulties that lie ahead in the road to combat these menaces.

"Today, the most serious challenge is that the culprits are arrogating to themselves the role of the prosecutor. Even more dangerous is that certain parties relying on their power and wealth try to impose a climate of intimidation and injustice over the world make bullying, while through their huge media resources portray themselves as defenders of freedom, democracy and human rights.

"People around the world are fully aware of what is happening in the occupied Palestine. Women and children are being murdered and adolescents taken prisoner. Houses are being demolished and farms burnt down. Yet, when the people of Palestine resist these conditions, they are accused of terrorism. At the same time, the occupier, which does not abide by any principles and terror is part of its pronounced and routine policy enjoys the support of the previously mentioned governments. Let me be blunter. State terrorism is being supported by those who claim to fight terrorism.

"How can one talk about human rights and at the same time blatantly deny many the inalienable right to have access to science and technology with applications in medicine, industry and energy and through force and intimidation hinder their progress and development? "Can nations be deprived of scientific and technological progress through the threat of use of force and based on mere allegations of possibility of military diversion?

We believe that all countries and nations are entitled to technological and scientific advancement in all fields, particularly the peaceful technology to produce nuclear fuel. Such access cannot be restricted to a few, depriving most nations and by establishing economic monopolies, use them as an instrument to expand their domination.

"We have gathered here to defend human rights in accordance with Charter of UN and prevent certain powers from claiming that "some countries have more rights "or that" some countries do not have the right to enjoy their legitimate rights". "We must not, at the beginning of the 21st century, revert to the logic of the dark ages and once again try to deny societies access to scientific and technological advances.

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
"The UN must be the symbol of democracy and the equal rights of nations. If we talk about the equal rights of nations in political forums, we must talk of the same concept in this forum as well.

"Similarly, if we talk about the right of sovereignty, then all nations must be allowed to exercise their rights on an equal footing and in a democratic process.

"The UN can be the standard bearer of democracy in the world, when it, itself, is a manifestation of democratic process. I reiterate that durable tranquility and peace can only be built on justice and spirituality.

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
"The Islamic Republic of Iran is a symbol of true democracy. All officials including the Leader, President, members of the Islamic Consultative Assembly, city and village councils are elected through the vote of the citizens. The Islamic Republic of Iran has held 27 national elections in 27 years. This showcases a vibrant and dynamic society in which people widely participate in the political life.

"Because of its key importance and influence in the important and strategic Middle East region, the Islamic Republic of Iran is committed to contribute actively to the promotion of peace and stability in the region.

"Saddam, Taliban regimes were both the products of foreign powers. The people of Afghanistan and Iraq know very well who supported these two regimes.

"Today, to establish peace and security in the region, foreign occupation forces must leave and completely hand over the political and economic sovereignty of these two countries to their peoples.

"The Islamic Republic of Iran will continue to provide full and comprehensive support to the people of Iraq and Afghanistan and their elected governments, and will actively help them in the establishment of order and security. My country will continue and expand its sincere cooperation and interaction with them.

"In Palestine, a durable peace will be possible through justice, an end to discrimination and the occupation of Palestinian land, the return of all Palestinian refugees, and the establishment of a democratic Palestinian state with Al-Quds Al-Sharif as its capital.

"Mr. President, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
"Today, more than ever, nations need constructive, positive and honest cooperation and interaction in order to enjoy a dignified, tranquil and peaceful life based on justice and spirituality. Let us enter into a collective covenant to realize this legitimate aspiration of our nations.

"Here, I would like to briefly talk about the approach and initiative of the Islamic Republic of Iran on the nuclear issue. Nuclear weapons and their proliferation, and attempts to impose an apartheid regime on access to peaceful nuclear energy, are two major threats, challenging international tranquility and peace.

"Keeping in mind that in past years no serious efforts complimented by practical mechanisms -- have been made to move towards full disarmament and more specifically implement the decisions and outcomes of the NPT Review Conferences of 1995 and 2000, I suggest that the General Assembly, as the most inclusive UN organ, mandate an ad-hoc committee to compile and submit a comprehensive report on possible practical mechanisms and strategies for complete disarmament.

"This Committee should also be asked to investigate as to how contrary to the NPT -- material, technology and equipment for nuclear weapons were transferred to the Zionist regime, and to propose practical measures for the establishment of a nuclear-weapons-free zone in the Middle East.

"Some powerful states practice a discriminatory approach against access of NPT members to material, equipment, and peaceful nuclear technology, and by doing so, intend to impose a nuclear apartheid.

"We are concerned that once certain powerful states completely control nuclear energy resources and technology, they will deny access to and thus deepen the divide between powerful countries and the rest of the international community. When that happens, we will be divided into light and dark countries.

"Regrettably, in the past 30 years, no effective measure has been implemented to facilitate the exercise of the legally recognized right of NPT state-parties to have access to and use peaceful nuclear energy in accordance with article IV. Therefore, the General Assembly should ask the IAEA in accordance with article 2 of its Statute to report on violations by specific countries that have hindered the implementation of the above article and also produce practical strategies for its renewed implementation.

"What needs our particular attention is the fact that peaceful use of nuclear energy without possession of nuclear fuel cycle is an empty proposition. Nuclear power plants can indeed lead to total dependence of countries and peoples if they need to rely for their fuel on coercive powers, who do not refrain from any measure in furtherance of their interests.

No popularly elected and responsible government can consider such a situation in the interest of its people. The history of dependence on oil in oil rich countries under domination is an experiment that no independent country is willing to repeat.

"Those hegemonic powers, who consider scientific and technological progress of independent and free nations as a challenge to their monopoly on these important instruments of power and who do not want to see such achievements in other countries, have misrepresented Iran's healthy and fully safeguarded technological endeavors in the nuclear field as pursuit of nuclear weapons. This is nothing but a propaganda ploy.

The Islamic Republic of Iran is presenting in good faith its proposal for constructive interaction and a just dialogue.

"However, if some try to impose their will on the Iranian people through resort to a language of force and threat with Iran, we will reconsider our entire approach to the nuclear issue.

"Allow me, as the elected President of the Iranian people, to outline the other main elements of my country's initiative regarding the nuclear issue:

"1. The Islamic Republic of Iran reiterates its previously and repeatedly declared position that in accordance with our religious principles, pursuit of nuclear weapons is prohibited.

"2. The Islamic Republic of Iran believes that it is necessary to revitalize the NPT and create the above-mentioned ad-hoc committee so that it can combat nuclear weapons and abolish the apartheid in peaceful nuclear technology.

"3. Technically, the fuel cycle of the Islamic Republic of Iran is not different from that of other countries which have peaceful nuclear technology.

"Therefore, as a further confidence building measure and in order to provide the greatest degree of transparency, the Islamic Republic of Iran is prepared to engage in serious partnership with private and public sectors of other countries in the implementation of uranium enrichment program in Iran. This represents the most far reaching step, outside all requirements of the NPT, being proposed by Iran as a further confidence building measure.

"4. In keeping with Iran's inalienable right to have access to a nuclear fuel cycle, continued interaction and technical and legal cooperation with the IAEA will be the centerpiece of our nuclear policy.

"Initiation and continuation of negotiations with other countries will be carried out in the context of Iran's interaction with the Agency.

"With this in mind, I have directed the relevant Iranian officials to compile the legal and technical details of Iran's nuclear approach, based on the following considerations:

"4.1. International precedence tells us that nuclear fuel-delivery contracts are unreliable and no legally binding international document or instrument exists to guarantee the delivery of nuclear fuel.

"On many occasions such bilateral contracts stopped altogether for political reasons. Therefore, the Islamic Republic of Iran, in its pursuit of peaceful nuclear technology, considers it within its legitimate rights to receive objective guarantees for uranium enrichment in the nuclear fuel cycle.

"4.2. In its negotiations with the EU3, Iran has tried in earnest to prove the solid and rightful foundations of its nuclear activity in the context of the NPT, and to establish mutual trust. The selection of our negotiating partners and the continuation of negotiations with the EU3 will be commensurate with the requirements of our cooperation with the Agency regarding non-diversion of the process of uranium enrichment to non-peaceful purposes in the framework of the provisions of the NPT.

In this context, several proposals have been presented which can be considered in the context of negotiations. The Islamic Republic of Iran appreciates the positive contribution of South Africa and H.E. President Mbeki personally in the resolution of the nuclear issue and cognizant of South Africa's active role in the IAEA Board of Governors would welcome its active participation in the negotiations.

"4.3. The discriminatory approaches regarding the NPT that focuses on the obligations of state-parties and disregards their rights under the Treaty should be discontinued.

"As the President of the Islamic Republic of Iran, I assure you that my country will use everything in its power to contribute to global tranquility and peace based on the two maxims of spirituality and justice as well as the equal rights of all peoples and nations.

My country will interact and cooperate constructively with the international community to face the challenges before us.

"Dear Friends and Colleagues,
"From the beginning of time, humanity has longed for the day when justice, peace, equality and compassion envelop the world. All of us can contribute to the establishment of such a world. When that day comes, the ultimate promise of all Divine religions will be fulfilled with the emergence of a perfect human being who is heir to all prophets and pious men. He will lead the world to justice and absolute peace.

"O mighty Lord, I pray to you to hasten the emergence of your last repository, the promised one, that perfect and pure human being, the one that will fill this world with justice and peace.

Senin, 10 Agustus 2009

KATA-KATA BIJAK

Kata kata bijak terkadang kita butuhkan pada saat kita merenungkan tentang arti hidup dan tujuan hidup, terutama disaat kita mengevaluasi dan mengintrospeksi diri.
Kalimat kalimat bijak penyejuk hati ini aku kutip dari buku SESEGAR TELAGA KAUTSAR oleh Huzaifah Ismail, semoga bisa menjadikan kita sebagai orang yang bijak dalam mengambil keputusan.(cieeee…)

1. Rendah hatilah! Engkau menjadi seperti bintang, dia berada tinggi di langit. Tetapi di permukaan air, dia tampak rendah.
2. Seseorang yang pikirannya dipenuhi banyak gagasan dan rencana cerdas tetapi tidak pernah mencoba merealisasikannya menjadi sebuah karya nyata , maka dia adalah orang yang tidak pernah berguna.
3. Modal yang diperlukan untuk memulai suatu kemajuan adalah kemauan, keberanian, dan pengetahuan. Sedangkan kekuatan untuk mempertahankannya adalah kejujuran, komitmen, inovasi dan kesabaran.
4. Cintailah apa yang kamu miliki jangan terlalu berambisi untuk memiliki apa yang kamu cintai.
5. Risiko positif dari harapan dan usaha adalah kesuksesan dan kebahagiaan, sedangkan risiko negatifnya adalah kegagalan. Risiko mengungkapkan isi hati adalah penolakan, dan risiko menaruh harapan pada orang lain adalah kekecewaan. Seberapa siapkah kita dalam menghadapi dan menerima risiko itu?
6. Tidak segala sesuatu yang diberikan kepada orang lain diukur dari nilai dan kondisi barangnya. Tetapi cinta menuntun hati dan jiwa agar selalu memberikan yang terbaik untuk orang yang dicintai.
7. Sabar adalah fondasi horizontal yang membangun keakraban dengan sesama manusia, sedangkan sholat adalah bangunan yang vertikal yang mengakrabkannya dengan yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.
8. Sabar dan sholat adalah ramuan istimewa yang Allah berikan kepada manusia agar mereka bisa menemukan solusi untuk setiap masalah, mengatasi setiap kesulitan, mengubah kegagalan menjadi harapan, menyulap kesedihan menjadi kebahagiaan, serta melestarikan nikmat dengan rasa syukur yang tiada akhir.
9. Dunia adalah arena seleksi untuk mencari pemenang. Sedikit manusia yang menyadari bahwa kehidupan dunia adalah permainan besar (The Big Game) yang berhadiahkan surga atau neraka.
10. Kesuksesan pada masalah masalah duniawi hanyalah kenikmatan yang berakhir bersamaan dengan berakhirnya kehidupan.

Selasa, 28 Juli 2009

AL-QUR'AN, ILMU DAN FILSAFAT MANUSIA



Prof. Dr. Quraish Shihab, MA.

Al-Quran Al-Karim dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu dan filsafat manusia, dapat disimpulkan mengandung tiga hal pokok:

Pertama, tujuan.

1. Akidah atau kepercayaan, yang mencakup kepercayaan kepada (a) Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya; (b) Wahyu, dan segala kaitannya dengan, antara lain, Kitab-kitab Suci, Malaikat, dan para Nabi; serta (c) Hari Kemudian bersama dengan balasan dan ganjaran Tuhan.
2. Budi pekerti, yang bertujuan mewujudkan keserasian hidup bermasyarakat, dalam bentuk antara lain gotong-royong, amanat, kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan lain-lain.
3. Hukum-hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesamanya, dirinya, dan alam sekitarnya.

Kedua, cara.

Ketiga hal tersebut diusahakan pencapaiannya oleh Al-Quran melalui empat cara:

1. Menganjurkan manusia untuk memperhatikan alam raya, langit, bumi, bintang-bintang, udara, darat, lautan dan sebagainya, agar manusia --melalui perhatiannya tersebut-- mendapat manfaat berganda: (a) menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan; dan (b) memanfaatkan segala sesuatu untuk membangun dan memakmurkan bumi di mana ia hidup.
2. Menceritakan peristiwa-peristiwa sejarah untuk memetik pelajaran dari pengalaman masa lalu.
3. Membangkitkan rasa yang terpendam dalam jiwa, yang dapat mendorong manusia untuk mempertanyakan dari mana ia datang, bagaimana unsur-unsur dirinya, apa arti hidupnya dan ke mana akhir hayatnya (yang jawaban-jawabannya diberikan oleh Al-Quran).
4. Janji dan ancaman baik di dunia (yakni kepuasan batin dan kebahagiaan hidup bahkan kekuasaan bagi yang taat, dan sebaliknya bagi yang durhaka) maupun di akhirat dengan surga atau neraka.

Ketiga, pembuktian.

Untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh Al-Quran seperti yang disebut di atas, maka di celah-celah redaksi mengenai butir-butir tersebut, ditemukan mukjizat Al-Quran seperti yang pada garis besarnya dapat terlihat dalam tiga hal pokok:

1. Susunan redaksinya yang mencapai puncak tertinggi dari sastra bahasa Arab.
2. Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkannya.
3. Ramalan-ramalan yang diungkapkan, yang sebagian telah terbukti kebenarannya.

Melihat kandungan Al-Quran seperti yang dikemukakan secara selayang pandang tersebut, tidak diragukan lagi bahwa Al-Quran berbicara tentang ilmu pengetahuan. Kitab Suci itu juga berbicara tentang filsafat dalam segala bidang pembahasan, dengan memberikan jawaban-jawaban yang konkret menyangkut hal-hal yang dibicarakan itu, sesuai dengan fungsinya: memberi petunjuk bagi umat manusia (QS 2:2) dan memberi jalan keluar bagi persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan (QS 2:213).
Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu

Sebelum berbicara tentang masalah tersebut, terlebih dahulu perlu diperjelas pengertian ilmu yang dimaksud dalam tulisan ini.

Al-Quran menggunakan kata 'ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai "proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan" (QS 2:31-32). Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya.

Sementara ini, ahli keislaman berpendapat bahwa ilmu menurut Al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika.

Berbeda dengan klasifikasi ilmu yang digunakan oleh para filosof --Muslim atau non-Muslim-- pada masa-masa silam, atau klasifikasi yang belakangan ini dikenal seperti, antara lain, ilmu-ilmu sosial, maka pemikir Islam abad XX, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua katagori:

1. Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu Ilahi yang tertera dalam Al-Quran dan Hadis serta segala yang dapat diambil dari keduanya.
2. Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antarbudaya selama tidak bertentangan dengan Syari'ah sebagai sumber nilai.

Dewasa ini diakui oleh ahli-ahli sejarah dan ahli-ahli filsafat sains bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji oleh komunitas ilmuwan sebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap realitas atau kebenaran yang telah diterima oleh komunitas tersebut. Dalam hal ini, satu-satunya yang menjadi tumpuan perhatian sains mutakhir adalah alam materi.

Di sinilah terletak salah satu perbedaan antara ajaran Al-Quran dengan sains tersebut. Al-Quran menyatakan bahwa objek ilmu meliputi batas-batas alam materi (physical world), karena itu dapat dipahami mengapa Al-Quran di samping menganjurkan untuk mengadakan observasi dan eksperimen (QS 29:20), juga menganjurkan untuk menggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS 16:78).

Hal ini terbukti karena, menurut Al-Quran, ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, sehingga terhadapnya tidak dapat dilakukan observasi atau eksperimen seperti yang ditegaskan oleh firman-Nya: Maka Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat (QS 69:38-39). Dan, Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang tidak dapat kamu melihat mereka (QS 7:27).

"Apa-apa" tersebut sebenarnya ada dan merupakan satu realitas, tapi tidak ada dalam dunia empiris. Ilmuwan tidak boleh mengatasnamakan ilmu untuk menolaknya, karena wilayah mereka hanyalah wilayah empiris. Bahkan pada hakikatnya alangkah banyaknya konsep abstrak yang mereka gunakan, yang justru tidak ada dalam dunia materi seperti misalnya berat jenis benda, atau akar-akar dalam matematika, dan alangkah banyak pula hal yang dapat terlihat potensinya namun tidak dapat dijangkau hakikatnya seperti cahaya.

Hal ini membuktikan keterbatasan ilmu manusia (QS 17:85). Kebanyakan manusia hanya mengetahui fenomena. Mereka tidak mampu menjangkau nomena (QS 30:7). Dari sini dapat dimengerti adanya pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh Al-Quran dan yang --di sadari atau tidak-- telah diakui dan dipraktekkan oleh para ilmuwan, seperti yang diungkapkan di atas.

Pengertian ilmu dalam tulisan ini hanya akan terbatas pada pengertian sempit dan terbatas tersebut. Atau dengan kata lain dalam pengertian science yang meliputi pengungkapan sunnatullah tentang alam raya (hukum-hukum alam) dan perumusan hipotesis-hipotesis yang memungkinkan seseorang dapat mempersaksi peristiwa-peristiwa alamiah dalam kondisi tertentu.

Seperti telah dikemukakan dalam pendahuluan ketika berbicara tentang kandungan Al-Quran, bahwa Kitab Suci ini antara lain menganjurkan untuk mengamati alam raya, melakukan eksperimen dan menggunakan akal untuk memahami fenomenanya, yang dalam hal ini ditemukan persamaan dengan para ilmuwan, namun di lain segi terdapat pula perbedaan yang sangat berarti antara pandangan atau penerapan keduanya.

Sejak semula Al-Quran menyatakan bahwa di balik alam raya ini ada Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia (antara lain QS 2:164; 51:20-21), dan bahwa tanda-tanda wujud-Nya itu akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran Al-Quran (QS 41:53).

Dengan demikian, sebagaimana Al-Quran merupakan wahyu-wahyu Tuhan untuk menjelaskan hakikat wujud ini dengan mengaitkannya dengan tujuan akhir, yaitu pengabdian kepada-Nya (QS 51-56), maka alam raya ini --yang merupakan ciptaan-Nya-- harus berfungsi sebagaimana fungsi Al-Quran dalam menjelaskan hakikat wujud ini dan mengaitkannya dengan tujuan yang sama. Dan dengan demikian, ilmu dalam pengertian yang sempit ini sekalipun, harus berarti: "Pengenalan dan pengakuan atas tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing manusia ke arah pengenalan dan pengakuan akan 'tempat' Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperluan."

Dalam definisi ini kita lihat bahwa konsep tentang "tempat yang tepat" berhubungan dengan dua wilayah penerapan. Di satu pihak, ia mengacu kepada wilayah ontologis yang mencakup manusia dan benda-benda empiris, dan di pihak lain kepada wilayah teologis yang mencakup aspek-aspek keagamaan dan etis.

Hal ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan bagaimana Al-Quran selalu mengaitkan perintah-perintahnya yang berhubungan dengan alam raya dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan-Nya. Bahkan, ilmu --dalam pengertiannya yang umum sekalipun-- oleh wahyu pertama Al-Quran (iqra'), telah dikaitkan dengan bismi rabbika. Maka ini berarti bahwa "ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, regional atau nasional, dengan mengurbankan kepentingan-kepentingan lainnya". Ilmu pada saat --dikaitkan dengan bismi rabbika-- kata Prof. Dr. 'Abdul Halim Mahmud, Syaikh Jami' Al-Azhar, menjadi "demi karena (Tuhan) Pemeliharamu, sehingga harus dapat memberikan manfaat kepada pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada manusia secara umum. Ia harus membawa kebahagiaan dan cahaya ke seluruh penjuru dan sepanjang masa."

Ayat-ayat Al-Quran seperti antara lain dikutip di atas, disamping menggambarkan bahwa alam raya dan seluruh isinya adalah intelligible (dapat dijangkau oleh akal dan daya manusia), juga menggarisbawahi bahwa segala sesuatu yang ada di alam raya ini telah dimudahkan untuk dimanfaatkan manusia (QS 43:13). Dan dengan demikian, ayat-ayat sebelumnya dan ayat ini memberikan tekanan yang sama pada sasaran ganda: tafakkur yang menghasilkan sains, dan tashkhir yang menghasilkan teknologi guna kemudahan dan kemanfaatan manusia. Dan dengan demikian pula, kita dapat menyatakan tanpa ragu bahwa "Al-Quran" membenarkan --bahkan mewajibkan-- usaha-usaha pengembangan ilmu dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk manusia serta memberikan kemudahan bagi mereka.

Tuhan, sebagaimana diungkapkan Al-Quran, "menginginkan kemudahan untuk kamu dan tidak menginginkan kesukaran" (QS 2:85). Dan Tuhan "tidak ingin menjadikan sedikit kesulitan pun untuk kamu" (QS 5:6). Ini berarti bahwa segala produk perkembangan ilmu diakui dan dibenarkan oleh Al-Quran selama dampak negatif darinya dapat dihindari.

Saat ini, secara umum dapat dibuktikan bahwa ilmu tidak mampu menciptakan kebahagiaan manusia. Ia hanya dapat menciptakan pribadi-pribadi manusia yang bersifat satu dimensi, sehingga walaupun manusia itu mampu berbuat segala sesuatu, namun sering bertindak tidak bijaksana, bagaikan seorang pemabuk yang memegang sebilah pedang, atau seorang pencuri yang memperoleh secercah cahaya di tengah gelapnya malam.

Bersyukur kita bahwa akhir-akhir ini telah terdengar suara-suara yang menggambarkan kesadaran tentang keharusan mengaitkan sains dengan nilai-nilai moral keagamaan.

Beberapa tahun lalu di Italia diadakan suatu permusyawaratan ilmiah tentang "cultural relations for the future" (hubungan kebudayaan di kemudian hari) dan ditemukan dalam laporannya tentang "reconstituting the human community" yang kesimpulannya, antara lain, sebagai berikut: "Untuk menetralkan pengaruh teknologi yang menghilangkan kepribadian, kita harus menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual."

Apa yang diungkapkan ini sebelumnya telah diungkapkan oleh filosof Muhammad Iqbal, yang ketika itu menyadari dampak negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Beliau menulis: "Kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual."

Apa yang diungkapkan itu adalah sebagian dari ajaran Al-Quran menyangkut kehidupan manusia di alam raya ini, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Segi lain yang tidak kurang pentingnya untuk dibahas dalam masalah Al-Quran dan ilmu pengetahuan adalah kandungan ayat-ayatnya di tengah-tengah perkembangan ilmu.

Seperti yang dikemukakan di atas bahwa salah satu pembuktian tentang kebenaran Al-Quran adalah ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiah yang tidak dikenal pada masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu, seperti:

* Teori tentang expanding universe (kosmos yang mengembang) (QS 51:47).
* Matahari adalah planet yang bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS 10:5).
* Pergerakan bumi mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan (QS 27:88).
* Zat hijau daun (klorofil) yang berperanan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses fotosintesis sehingga menghasilkan energi (QS 36:80). Bahkan, istilah Al-Quran, al-syajar al-akhdhar (pohon yang hijau) justru lebih tepat dari istilah klorofil (hijau daun), karena zat-zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun saja tapi di semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau.
* Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan yang setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS 86:6 dan 7; 96:2).

Demikian seterusnya, sehingga amat tepatlah kesimpulan yang dikemukakan oleh Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya Al-Qur'an, Bible dan Sains Modern, bahwa tidak satu ayat pun dalam Al-Quran yang bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari sini ungkapan "agama dimulai dari sikap percaya dan iman", oleh Al-Quran, tidak diterima secara penuh. Bukan saja karena ia selalu menganjurkan untuk berpikir, bukan pula hanya disebabkan karena ada dari ajaran-ajaran agama yang tidak dapat diyakini kecuali dengan pembuktian logika atau bukan pula disebabkan oleh keyakinan seseorang yang berdasarkan "taqlid" tidak luput dari kekurangan, tapi juga karena Al-Quran memberi kesempatan kepada siapa saja secara sendirian atau bersama-sama dan kapan saja, untuk membuktikan kekeliruan Al-Quran dengan menandinginya walaupun hanya semisal satu surah sekalipun (QS 2:23).
Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat

Apakah filsafat itu, dan bagaimana perkembangannya? Adalah satu pertanyaan yang memerlukan jawaban singkat sebelum permasalahan yang diketengahkan ini diuraikan.

Bertrand Russel menjelaskan bahwa filsafat merupakan jenis pengetahuan yang memberikan kesatuan dan sistem ilmu pengetahuan melalui pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan, prasangka-prasangka dan kepercayaan. Hal ini disebabkan karena pemikiran filsafat bersifat mengakar (radikal) yang mencoba memberikan jawaban menyeluruh dari A-Z, mencari yang sedalam-dalamnya sehingga melintasi dimensi fisik dan teknik.

Objek penelitiannya ialah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik "ada yang umum" (ontologi 'ilm al-kainat) maupun "ada yang khusus atau mutlak" (Tuhan). Atau, dengan kata lain, objek penelitian filsafat mencakup pembahasan-pembahasan logika, estetika, etika, politik dan metafisika.

Melihat demikian luasnya pembahasan filsafat tersebut, maka pembahasan kita kali ini dibatasi pada bagian "ada yang umum". Itu pun hanya dalam masalah yang menjadi pusat perhatian pemikir dewasa ini dan yang merupakan penentu jalannya sejarah kemanusiaan, yakni "manusia". Karena, memang, dewasa ini orang tidak banyak lagi berbicara tentang bukti wujud Tuhan atau kebenaran wahyu, tidak pula menyangkut pertentangan agama dengan aliran-aliran materialisme, tapi topik pembicaraan adalah "manusia" karena pandangan tentang hakikat manusia akan memberikan arah dari seluruh sikap dan memberikan penafsiran terhadap semua gejala.

Dalam abad pertengahan, manusia dipandang sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang melebihi makhluk-makhluk lainnya, pandangan yang sejalan dengan keyakinan agama serta menganggap bahwa bumi tempat manusia hidup merupakan pusat dari alam semesta. Tapi pandangan ini digoyahkan oleh Galileo yang membuktikan bahwa bumi tempat tinggal manusia, tidak merupakan pusat alam raya. Ia hanya bagian kecil dari planet-planet yang mengitari matahari. Pandangan yang didukung oleh penelitian ilmiah ini, bertentangan dengan penafsiran Kitab Suci (Kristen) dan membuka satu lembaran baru dalam sejarah manusia Barat yang menimbulkan krisis keimanan dan krisis lainnya.

Disusul kemudian dengan teori evolusi yang dikemukakan oleh Darwin. Segi-segi negatif dari teori ini bukannya hanya diakibatkan oleh teori tersebut, tapi lebih banyak lagi diakibatkan oleh kesan-kesan yang ditimbulkannya dalam pikiran masyarakat serta para ahli pada masanya dan masa sesudahnya. Dari Darwin perjalanan dilanjutkan oleh Sigmund Freud yang mengadakan pengamatan terhadap sekelompok orang-orang sakit (abnormal) dan yang pada akhimya berkesimpulan, bahwa manusia pada hakikatnya adalah "makhluk bumi" yang segala aktivitasnya bertumpu dan terdorong oleh libido, sedangkan agama -menurutnya-- berpangkal dari Oedipus complex dan, dengan demikian, Tuhan tidak lain kecuali ilusi belaka.

Kemajuan yang dicapai Eropa di bidang industri dan ilmu pengetahuan sejak masa renaissance, mengantarkan masyarakat untuk lebih jauh menolak kekuasaan agama secara total yang mengakibatkan pula kekaguman yang berlebihan kepada otoritas sains yang terlepas dari nilai-nilai spiritual keagamaan, dan yang pada akhirnya mencapai puncaknya pada peristiwa pemboman di Hiroshima dan Nagasaki pada waktu Perang Dunia II. Setelah itu terjadi beberapa hal yang mendasar: agama, antara lain, mulai disebut-sebut walaupun dengan suara yang sayup-sayup. Pretensi sains dipermasalahkan.

Eksistensialisme mulai berbicara lagi: "Sebenarnya tak ada arah yang harus dituju, pergilah ke mana engkau sukai. Engkau mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan segala sesuatu. Mari kita berpegang erat-eras pada kebebasan kita. Sosialisme telah merebut segala-galanya dan menyerahkan kepada negara. Agama juga mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan, sedangkan Tuhan di luar esensi manusia. Jadi agama juga menghalangi kebebasan manusia. Agama menipu para pengecut sehingga ia --demi mengalihkan manusia dari eksistensinya-- menciptakan surga yang kekal di langit, dan --untuk memberikan rasa takut-- neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." Demikian antara lain pandangan Sartre, salah satu tokoh aliran ini.

Sebelum kita sampai pada pandangan Al-Quran, ada baiknya kita mengutip pendapat Alexis Carrel, seorang ahli bedah dan fisika, kelahiran Prancis yang mendapat hadiah Nobel. Beliau menulis dalam buku kenamaannya, Man the Unknown, antara lain: "Pengetahuan manusia tentang makhluk hidup dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Manusia adalah makhluk yang kompleks, sehingga tidaklah mudah untuk mendapatkan satu gambaran untuknya, tidak ada satu cara untuk memahami makhluk ini dalam keadaan secara utuh, maupun dalam bagian-bagiannya, tidak juga dalam memahami hubungannya dengan alam sekitarnya."

Selanjutnya, ia mengatakan: "Kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ahli yang mempelajari manusia hingga kini masih tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-daerah yang tidak terbatas dalam diri (batin) kita yang tidak diketahui".

Keterbatasan pengetahuan, menurutnya, disebabkan karena keterlambatan pembahasan tentang manusia, sifat akal manusia dan kompleksnya hakikat manusia. Kedua faktor terakhir adalah faktor permanen, sehingga tidaklah berlebihan menurutnya "jika kita mengambil kesimpulan bahwa setiap orang dari kita terdiri dari iring-iringan bayangan yang berjalan di tengah-tengah hakikat yang tidak diketahui."

Dari segi pandangan seorang beragama, kiranya dapat dikatakan bahwa untuk mengetahui hal tersebut dibutuhkan pengetahuan dari pencipta Yang Maha Mengetahui melalui wahyu-wahyu-Nya, karena memang manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan atas peta gambaran Tuhan dan yang dihembuskan kepadanya Ruh ciptaanNya.

Nah, apa yang dikatakan Al-Quran tentang manusia? Tidak sedikit ayat Al-Quran yang berbicara tentang manusia; bahkan manusia adalah makhluk pertama yang telah disebut dua kali dalam rangkaian Wahyu Pertama (QS 96:1-5). Manusia sering mendapat pujian Tuhan. Dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, ia mempunyai kapasitas yang paling tinggi (QS 11:3), mempunyai kecenderungan untuk dekat kepada Tuhan melalui kesadarannya tentang kehadiran Tuhan yang terdapat jauh di bawah alam sadarnya (QS 30:43). Ia diberi kebebasan dan kemerdekaan serta kepercayaan penuh untuk memilih jalannya masing-masing (QS 33:72; 76:2-3). Ia diberi kesabaran moral untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, sesuai dengan nurani mereka atas bimbingan wahyu (QS 91:7-8). Ia adalah makhluk yang dimuliakan Tuhan dan diberi kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk lainnya (QS 17:70) serta ia pula yang telah diciptakan Tuhan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4).

Namun di lain segi, manusia ini juga yang mendapat cercaan Tuhan. Ia amat aniaya dan mengingkari nikmat (QS 14:34), dan sangat banyak membantah (QS 22:67). Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Al-Quran bertentangan satu sama lain, tetapi hal tersebut menunjukkan potensi manusiawi untuk menempati tempat terpuji, atau meluncur ke tempat yang rendah sehingga tercela.

Al-Quran menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempurna kejadiannya, Tuhan menghembuskan kepadanya Ruh ciptaan-Nya (QS 38:71-72). Dengan "tanah" manusia dipengaruhi oleh kekuatan alam seperti makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks, dan sebagainya, dan dengan "Ruh" ia diantar ke arah tujuan non-materi yang tak berbobot dan tak bersubstansi dan yang tak dapat diukur di laboratorium atau bahkan dikenal oleh alam material.

Dimensi spiritual inilah yang mengantar mereka untuk cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dan sebagainya. Ia mengantarkan mereka kepada suatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa cacat, tanpa batas dan tanpa Akhir: wa anna ila rabbika Al-Muntaha -- dan sesungguhnya kepada Tuhan-Mu-lah berakhirnya segala sesuatu (QS 53:42). Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan penuh kesungguhan menuju Tuhanmu dan pasti akan kamu menemui-Nya" (QS 84:6).

Dengan berpegang kepada pandangan ini, manusia akan berada dalam satu alam yang hidup, bermakna, serta tak terbatas, yang dimensinya melebar keluar melampaui dimensi "tanah", dimensi material itu.

Al-Quran tidak memandang manusia sebagai makhluk yang tercipta secara kebetulan, atau tercipta dari kumpulan atom, tapi ia diciptakan setelah sebelumnya direncanakan untuk mengemban satu tugas, Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi (QS 2:30). Ia dibekali Tuhan dengan potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik (QS 13:11), serta ditundukkan dan dimudahkan kepadanya alam raya untuk dikelola dan dimanfaatkan (QS 45:12-13). Antara lain, ditetapkan arah yang harus ia tuju (QS 51:56) serta dianugerahkan kepadanya petunjuk untuk menjadi pelita dalam perjalanan itu (QS 2:38).
Penutup

Demikian filsafat materialisme dengan aneka ragam panoramanya berbicara tentang manusia. Dan demikian pula Al-Quran. Keduanya telah menjelaskan pandangannya. Keduanya telah mengajak manusia untuk menemukan dirinya, tapi yang pertama berusaha untuk menyeretnya ke debu tanah dari Ruh Tuhan, sedangkan Al-Quran mengajaknya untuk meningkat dari debu tanah menuju Tuhan Yang Mahaesa.

Selasa, 14 Juli 2009

SENIMAN JALANAN

Di jalanan, perempatan lampu merah, dalam bus kota, bahkan sampe ke pintu-pintu rumah kita. Pengamen bertebaran. Mencari recehan untuk makan. Adakalanya menghibur, adakalanya nyebelin. Yang nyebelin, di siang bolong genjrang-genjreng ga jelas di bawah pengaruh alkohol yanyi lagu-lagu balada. Kreatifitas yang menyedihkan !.

Saya termasuk yang punya pengalaman ga enak sama seniman-seniman ini, prilaku yang kurang sopan dengan menebar ancaman baru keluar dari penjara dan karena merasa lebih baik mengamen daripada mencuri tapi dengan kualitas yang sangat minim berusaha menangguk untung. Itu terjadi beberapa tahun ke belakang, sekarang kita patut bersyukur bahwa gaya-gaya preman berkedok seniman ini nyaris tak berbekas.

Seniman jalanan yang berusaha untuk bertahan hidup di kerasnya Ibukota, sebenernya sebuah pekerjaan informal yang menghasilkan cukup banyak rupiah. Bayangkan, kalo setiap seniman jalanan bisa membawa pulang 20-30 Ribu Rupiah per hari. Berapa penghasilan bulanan mereka. Itu dihitung perorangan. Kalo perkelompok kisaran pendapatan mereka mungkin bisa lebih besar. Bahkan ada yang berani menyebut angka ratusan ribu rupiah per hari. Perputaran uang yang fantastis !

Dilema pemerintah saat ini adalah kurang siapnya menyediakan lapangan kerja baru buat angkatan kerja berpendidikan apalagi tidak berpendidikan. Semakin lama, semakin tinggi. Tingkat pengangguran ini bisa diatasi dengan pembinaan para seniman jalanan dengan memberikan mereka ruang berekspresi yang lebih layak. Seperti di Taman Kota, Tempat keramaian (mall), Stasiun Kereta/Bus dan lain-lain. Dengan harapan agar profesi seniman jalanan ini tidak menjadi target operasi pemerintah daerah yang mulai merasa “gerah” dengan akselerasi seniman-seniman jalanan di hampir setiap sudut kota.

Ide penerapan PERDA tentang ketertiban umum dimana seniman jalanan disebut sebagai salah satu penyebabnya bakalan membawa implikasi bertambahnya jumlah pengangguran dan berkurangnya angka kreatifitas anak muda bangsa.

Dari seniman jalanan bukannya ga mungkin bakalan lahir seniman-seniman panggung yang bisa mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional.

Kita tunggu aja …

PREMANISME DAN KULTUR SOSIAL



Kehidupan aman dan damai merupakan dambaan setiap manusia. Kondisi yang memungkinkan setiap orang dapat menjalankan berbagai kegiatan sesuai rencana. Namun tak bisa dimungkiri bahwa "standar deviasi" dari situasi ideal tersebut muncul seiring perkembangan masyarakat sosial khususnya dalam lingkungan urban.

Premanisme merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari harapan terwujudnya kehidupan sosial yang tenteram. Fenomena perilaku yang muncul dalam struktur peradaban feodal ini berevolusi menjadi sebuah realitas umum.

Istilah premanisme yang berasal dari kata preman ini sebenarnya tidak memiliki arti baku dalam tata bahasa Indonesia. Kata preman sendiri adalah bentuk adaptasi vokal lidah indonesia untuk kata free-man, yang bisa diartikan sebagai orang atau manusia yang menyatakan dirinya bebas dari segala bentuk tata tertib dan kewajiban namun tidak akan mengurangi haknya, bahkan niscaya mendapatkan hak orang lain.

Premanisme sebagai terminologi yang dipilih media ini dimaksudkan untuk mengkondisikan sebuah perilaku yang telah menjadi kebenaran dan pandangan hidup yang dianut beberapa anggota masyarakat yang oportunis.

Definisi sederhana di atas memang hanya akan memunculkan interpretasi yang abstrak dan sulit dibatasi. Tetapi pada praktiknya penyakit masyarakat ini dapat dengan mudah kita temui dalam setiap jaringan sosial masyarakat.

Tindakan preman sebenarnya merupakan wujud sikap merendahkan orang lian, malas, menyalahkan keadaan tak punya keahlian dipadu dengan keinginan cepat kaya dan mau enaknya saja. Orang seperti ini banyak kita temui di jalanan, parkiran, terminal atau daerah/instansi tertentu. Tameng yang biasanya mereka bawa yakni embel-embel keamanan dan ketertiban, yang sebenarnya adalah sebuah ironi.

Sikap sok jago, mereka tampilkan dalam bentuk gertakan atau omelan bahkan tidak jarang berakhir pada kekerasan fisik. Akibat yang akan dihadapi jika sikap yang kita berikan tidak bekenan dengan keinginan mereka.

Sepak terjang preman-preman ini, dari kelas teri sampai yang sudah kakap tentu merupakan sesuatu yang sangat meresahkan masyarakat. Namun keresahan yang tidak bisa begitu saja mudah tersingkirkan dari halaman rumah kita.

Mencermati premanisme sebagai perilaku manusia tidak terlepas dari kondisi sosio-kultural dan nilai- nilai sosial maupun moral yang dianut dalam kehidupan sehari-hari komunitas yang dihinggapinya.

Ada beberapa faktor penyebab yang menurut penulis memiliki relevansi dengan kultur bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia cenderung lebih menganggap standar seorang ksatria adalah yang kuat secara fisik, bertenaga kuat dan disegani karena kegarangan. Kejantanan , imej yang diagungkan dalam sistem patriarki berkembang ke arah yang salah. Sementara faktor kematangan berpikir, intelektualitas dan prestasi nonfisik kurang dihargai. Pandangan ini akhirnya menciptakan pembenaran mental bahwa kekerasan dan mengintimidasi manusia lain adalah sesuatu yang wajar dan natural.

Selain itu, beberapa kelompok masyarakat masih mewarisi ciri masyarakat feodal yang memilih membutuhkan seorang "jagoan kampung" daripada mematuhi dan mempercayai peraturan. Hal ini memberi ruang bagi mereka yang ingin menjadi pemimpin atau pengayom nonfomal. Dan untuk jasanya, memberi upeti dianggap sebagai sesuatu yang wajar sehingga menjadikan preman betah dan menikmati kebodohannya.

Coreng hitam
Menciptakan keamanan dan ketertiban merupakan tugas semua warga negara. Aparat sebagai instrumen negara yang resmi untuk menjamin ketenteraman diberikan otoritas bagi penegakannya. Namun, penggunaan hak tersebut harus tetap dalam prosedural hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Sebagai negara yang menjunjung tinggi kedaulatan hukum, Indonesia mengutamakan penyelesaian masalah sesuai peraturan dengan memenuhi azas pada keadilan untuk seluruh lapisan masyarakat.

Penumpasan premanisme seperti yang terjadi pada era 80-an, yakni penembak misterius (Petrus) merupakan sebuah bentuk cara instan yang ditempuh untuk mengatasi maraknya premanisme.

Kebijakan sekelompok oknum ini dianggap kurang manusiawi dan hanya berdampak pada penyelesaian masalah jangka pendek. Memang tingkat kriminalitas pada waktu itu turun drastis dan berhasil menciutkan nyali para jagoan kesiangan.

Tetapi kasus peculikan yang dilakukan, penghilangan nyawa, eksekusi tanpa tanya, serta pembuangan mayat bukanlah sebuah tindakan strategis dan berefek fundamental bagi pengenyahan premanisme dalam jangka panjang, malah menyisakan coreng hitam dalam sejarah kemanusiaan negeri ini.

Pelaksanaannya sendiri banyak terjadi kesalahan. Banyak yang tidak bersalah menjadi korban karena memiliki kriteria fisik seorang preman. Seorang seniman yang memiliki tato divonis mati tanpa kesempatan membela diri karena target kerja serta identifikasi dan defenisi sempit oknum tersebut tentang premanisme.

Kegagalan petrus terbukti saat ini. Preman-preman masih berserakan di seantero nusantara dengan segala bentuk dan asesorisnya. Bahkan beberapa aktifitas premanisme dibacking aparat. Koalisi preman dan aparat nakal ini semakin menciptakan keresahan dan hilangnya kredibilitas aparat negara sebagai pengayom warga.

Visi kepolisian melakukan operasi preman sampai ke akar-akarnya sebagai langkah awal mewujudkan reformasi di tubuh lembaga tersebut memang dapat memberi sedikit rasa lega di benak masyarakat Namun yang harus kita pikirkan bersama, bukan hanya polisi, premanisme tidak akan hilang hanya dengan berpaku pada razia.

Sebab ini bisa saja hanya menjadi siklus yang terus-menerus berulang, yang suatu saat ciut- namun menjamur lagi- mengganggu masyarakat- dan kembali ditangani aparat. Operasi premanisme yang ditegakkan kepolisian harus didukung masyarakat sepenuhnya. Tidak ada pembelaan untuk tindakan premanisme apalagi pembenaran untuk kondisi ekonomi-sosial.

Keterpurukan berbagi sendi ibu pertiwi membutuhkan kerja keras dan semangat putra-putrinya. mental jagoan dan pemalas harus kita singkirkan dari budaya kita sebab orang-orang seperti ini hanya akan menjadi beban bangsa, parasit sosial yang menghinggapi tubuh masyarakat dan negara.

Sabtu, 04 Juli 2009

You'll Never Walk Alone



When you walk through a storm hold your head up high
And don't be afraid of the dark.
At the end of a storm is a golden sky
And the sweet silver song of a lark.
Walk on through the wind,
Walk on through the rain,
Tho' your dreams be tossed and blown.
Walk on, walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone,
You'll never, ever walk alone.

Walk on, walk on with hope in your heart
And you'll never walk alone,
You'll never, ever walk alone.

PEDJAH GESANG NDHEREK SLEMANIA

SELALU DUKUNG PSS SLEMAN